Minggu, 22 Januari 2012

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan pergi ke Kabupaten Alor - salah satu pulau dengan hamparan pantai yang sangat indah, menurut penilaian saya. Perjalanan kami tanpa hambatan karena sebenarnya Alor mudah dijangkau. Menggunakan pesawat udara kami hanya perlu waktu kira-kira 45 menit untuk tiba di bandar udara Mali, sedangkan kalau memakai kapal laut kira-kira 17 jam perjalanan dari Kupang. Panas menyengat saya rasakan begitu kaki saya menginjak bandara Mali....hmmm....rupanya Alor tak kalah panas dibanding Kupang .....


Kegiatan kami di Alor cuma berlangsung tiga hari tapi Panitia daerah di Alor sungguh sangat amat kreatif. Mereka mengemas kegiatan ini sebegitu rupa sehingga disamping semua kegiatan dapat dilaksanakan dan berhasil baik,para peserta dan semua panitia dapat waktu refreshing yang luar biasa seru, dibawa mengunjungi wisata pantai mereka yang indah & eksotik. Inilah yang saya suka.
Bagi yang suka wisata laut, dari info yang kami dapat Alor punya 18 titik untuk menyelam yang disebut ‘Baruna’s Dive Sites at Alor’. Sayang kami tidak punya banyak waktu di Alor.


Kabupaten Alor adalah salah satu dari 21 kabupaten/kota di Propinsi NTT yang terdiri dari 20 bh pulau. Menurut data hanya 9 bh pulau disana yg telah didiami yaitu Pulau Alor, Pulau Pantar, Pulau Pura, Pulau Tewereng, Pulau Ternate, Pulau Kepa, Pulau Buaya, Pulau Kangge dan Pulau Kura, sedangkan 11 pulau sisanya tidak berpenghuni. Pulau Alor adalah pulau yang paling indah di Kabupaten ini.

Oleh teman-teman disana kami lalu dibawa ke Pulau Kepa, pulau dengan pantai pasir putihnya yang sangat bersih dan indah, dimana orang dapat menangkap ikan ditepi pantai dan lalu memanggangnya disitu dan lunch or dinner dibibir pantai dgn pemandangan pantai dan perahu nelayan yg hilir mudik dgn lampu-lampu petromaks, dibarengi hembusan angin laut, hmmm..sungguh nikmat. Seharusnya pulau ini dapat dikelola dijadikan satu pulau wisata dengan restoran seafood-nya wah...pasti tak kalah dengan pantai Kuta di Bali. Itu hanya khayalan saya saja.

Pulau yang ditinggali orang bule ini berukuran kurang lebih 2 ha. Lokasinya berada di seberang Pelabuhan Kalabahi. Dari pantai Alor Kecil terlihat Tanjung Kepa yang memiliki pasir putih dibibir pantainya. Menuju Pulau Kepa dari Kalabahi sekitar 45 menit dengan kendaraan bermotor, dilanjutkan dengan menyewa perahu motor milik nelayan. Selain antar-jemput, sampan ini juga melayani rute antar-keliling Pulau Kepa. Pulau Kepa adalah tempat yang ideal untuk snorkeling dan diving. Untuk snorkeling bisa dilakukan setengah hari, lalu kembali ke Kalabahi. Sedangkan untuk diving membutuhkan waktu lebih lama, karena harus bersampan motor ke lokasi penyelaman. Di pulau Kepa ada sebuah resort yg bernama Cedric Resort & Bungalow, milik warga negara Perancis yang menyewakan peralatan snorkeling dan diving. Bungalo ini terbuat dari kayu dan sangat natural Mayoritas tamu yang mengunjungi Kepa dan menginap disana adalah para bule. Sayang kami tak bisa menginap dipulau karena harus segera pulang ke Kupang.

Sepanjang perjalanan melewati hamparan pantai dengan airlautnya yang begitu jernih sampai-sampai saya dapat melihat dengan jelas karang-karang dan ikan –ikan kecil berwarna-warni, juga bebatuannya yang indah, saya terkagum-kagum dengan indahnya ciptaan Sang Pencipta. Mungkin sebab inilah maka Taman Laut Alor disebut-sebut terbaik kedua didunia setelah Kepulauan Karibia. Amazing....semua terhampar jelas didepan mata, begitu indah, alami, eksotik, georgeus....terkandung berjuta potensi, keindahan alam, kehidupan biota lautnya, sumber kehidupan bagi masyarakat, wisata laut yang menjanjikan, surga bagi para penikmat dan pencinta keindahan alam,laut dan pantai seperti saya. Ah...seandainya saya punya banyak waktu untuk berada disini......


Alor sungguh indah, kaya dengan ragam budayanya yang unik dan original, potensi bahari yang begitu banyak, pulau penghasil kenari, penghasil Mangga Kelapa yg enak itu, sungguh Sang Pencipta begitu bermurah hati bagi orang-orang Alor. Bahkan seorang Antropholog Asing Dr. Cora Du Bois mau tinggal di Alor dan meneliti kehidupan dan budaya masyarakat Alor dan menerbitkannya dalam sebuah buku berjudul The People of Alor. Sekarang tinggal orang-orang Alor sendiri dan Pemerintah Daerahnya yang harus memberdayakan potensi itu untuk kesejahteraan dan kemajuan daerah dan masyarakat mereka sendiri.


Lalu waktu juga yang harus memisahkan saya dari pulau eksotik ini, dibandara saya dikasi kalungan tenun ikat yang sangat indah oleh teman-teman disana, lalu dihadiahi juga dengan kenari dan mangga kelapanya yang sangat enak itu, bagi saya berkegiatan di Alor sangat menyenangkan dan berguna karena saya mendapatkan pengalaman melihat lautnya yang bersih, bening, biru yang memantulkan cahayanya kelangitnya yang juga begitu biru dan bersih. Lebih daripada itu saya juga bertemu dengan sahabat-sahabat yang luar biasa disana. Walaupun kulit saya terbakar hitam tersengat matahari tapi itu tidak sebanding dengan apa yang telah diberikan pulau ini bagi saya. Sebab melihat ciptaanNya di Alor, saya mengagumi Penciptanya.