Bahwa ..... Tujuan Hidup adalah sesuatu yang diyakini sebagai panggilan tertinggi dan alasan mengapa sesorang hidup. Ia berjuang habis-habisan dan mempertaruhkan segalanya untuk itu.
Aku telah berada ditempat yang benar, tetapi tidak bergerak, aku tidak mengadakan kegerakan, tidak ikut gerakan apa-apa, atau aku berjalan ditempat. Aku telah mengetahui 'Jalan' itu, menerima 'Jalan' itu, mendapat kepastian 'Jalan' itu tetapi hidupku datar, biasa-biasa saja, dalam segala hal. Tidak sukses, tidak pula gagal. Tidak berhasil, tidak maksimal, lalu tidak memberi dampak. Aku bertanya, apa yang salah ? lalu aku diberitahu....Aku tidak memiliki Tujuan Hidup yang diperjuangkan. Selama ini aku merasa sudah 'mencapai' tujuan hidup, yaitu 'telah diselamatkan' karena telah memperoleh keselamatan. Hidup jadi baik-baik saja, menikmati apa yang telah ada dan menjaga semuanya dalam status quo.
Aku lupa bahwa 'memperoleh selamat' barulah awal, dan baru pintu gerbang utnuk masuk 'jalan sebenarnya'. Setelah itu masih banyak 'pekerjaan' yang harus dilakukan. Seorang tokoh yang aku (harus)kagumi dan (harus) teladani, menulis, "tetapi jika aku harus hidup didunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah.
Oh, ternyata penulis yang kukagumi ini adalah orang yang menyadari 'Tujuan Hidup' yang diberikan Sang Pemberi Hidup, yang telah ditetapkan bagi dia. Ia telah hidup untuk tujuan itu, memberi seluruh hidupnya untuk hal itu, bahkan sampai akhir hidupnya. Hidup diluar tujuan tersebut, penulis itu memberi istilah "lebih baik atau lebih untung mati saja, bertemu dengan Sang pemberi hidup dan tinggal disurga. Tetapi baginya "lebih perlu untuk hidup, supaya bisa berbuah"
Karenanya aku tahu bahwa hidup berbuah adalah perubahan pribadi, bertumbuh dalam nilai kasih dan kebenaran dalam kata dan sikap. Kemudian benih kasih bertumbuh dan bergerak menghasilkan kesabaran, murah hati, penguasaan diri, tidak sombong dan integritas. Sehingga buah pelayanan kepada sesama adalah perubahan orang lain karena pengaruh dari hidup kita dan pengarauh perbuatan kita. Hidup yang memberi dampak dari tujuan hidup penulis itu, membuat orang lain berhasil. Itu bersifat kekekalan. Investasi untuk kehidupan yang akan datang ( dimulai saat ini, disini ) setiap yang menyebut dirinya manusia ciptaan, bakal menghadapinya. Menghasilkan hal-hal seperti inilah tujuan hidup yang dimaksudkan. Terdapat pelajaran berharga dari seseorang yang harus diteladani pula berikut ini .......
seorang yang berjalan berjalan dengan tegar, berjalan menuju podium almamaternya, dengan lengan kiri tergantung lemah karena hampir terkoyak dari tubuh tuanya, karena diserang binatang buas ditempat ia mengabdikan hidup selama ini. Kulit wajahnya coklat gelap akibat 16 tahun berada dibawah terik matahari daerah tandus itu. Wajahnya berkerut penuh garis-garis yang tidak terhitung jumlahnya karena terpaan matahari yang merusak dan penyakit yang menguruskan tubuh. Beberapa kali diserang pemberontak. Telinganya telah tuli akibat demam rematik dan dia setengah buta akibat cabang pohon yang yang menampar matanya ketika berada dihutan. Ia mulai menyampaikan pidatonya dihadapan para mahasiswa ....satu hal menopang saya ditengah-tengah semua kerjakeras, penderitaan dan kesedihan yang sangat besar ini, yaitu sebuah janji, janji seorang Pria yang bermartabat paling luhur , yaitu janji ini ................
" Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir jaman'. Terhadap janji inilah ...aku mempercayainya dan menemukan kekuatan yang tak akan ada habis-habisnya, selamanya didalam hidupku. Kemudian dalam buku hariannya tertulis sebuah doa, yang ketika membaca, membuat kata-kata itu melekat dikerongkongan...." Tuhan bawa aku kemana saja, hanya sertailah aku. Letakkan beban apa saja atasku, hanya topanglah aku. Putuskanlah ikatan apa saja daripadaku, kecuali ikatan yang mengikatkanku kepada pelayananMu dan kepada hatiMu"
( Untuk semua yang telah menjadi inspirator , thank you so much ! )
Kamis, 19 Maret 2009
Hanya sebuah reflexi..............
Langganan:
Postingan (Atom)